Dasar Dasar Meditasi

Dasar Dasar MeditasiBhikkhu Uttamo Mahathera
Pelaksanaan Buddha Dhamma atau ajaran yang dibabarkan oleh Sang Buddha Gotama Sekitar 2500 tahun yang lalu dilakukan melalui tiga perbuatan kebajikan. Ketiga perilaku kebajikan yang tidak dapat dilepaskan satu per satu itu adalah kerelaan (dana), kemoralan (sila), serta konsentrasi (smadhi). Kerelaan atau dana pada tingkat awal adalah latihan agar seseorang mampu melepaskan keterikatan dengan berbagai benda duniawi. Ia dilatih untuk mampu berbagi makanan, pakaian, tempat tinggal maupun berbagai benda keduniawian lainnya. Pada tingkat selanjutnya, latihan kerelaan dilakukan dengan berbagai perhatian. Pada tahap lanjutan ini, kerelaan yang tertinggi adalah ketika seseorang mampu merelakan keakuan yang ia miliki. Ia mampu merelakan kebencian berubah menjadi kasih sayang. Ia merelakan permusuhan menjadi persahabatan. Ia mampu merelakan keinginan untuk diperhatikan menjdi pengabdian kepada masyarakat luas. Kemampuan tertinggi ini menjadi nyata dengan munculnya rasa sayang terhadap semua makhluk. Ia selalu berharap agar semua makhluk selalu hidup bahagia, bebas dari penderitaan maupun kebencian.
Kemoralan atau sila adalah latihan pengendalian perilaku badan maupun ucapan agar tidak menimbulkan penderitaan untuk diri sendiri maupun untuk pihak lain. Dalam melaksanakan latihan kemoralan dikenal, paling sedikit, adanya lima latihan kemoralan yang biasa disebut sebagai Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis terdiri dari latihan untuk menguranngi pembunuhan serta penganiayaan, latihan untuk tidak melakukan pencurian, latihan untuk tidak melakukan pelanggaran kesusilaan dan penjinahan, latihan untuk tidak mengucapkan kata yang tidak benar atau bohong dan latihan kelima adalah berusaha menghindari makan minum berbagai bahan yang dapat menimbulkan ketagihan maupun hilangnya kesadaran akibat mabuk. Tujuan melaksanakan kelima latihan ini agar seseorang selalu menyadari semua tindakan badan maupun ucapannya.
Agar seseorang lebih mampu menyadari segala bentuk perilaku badan dan ucapannya, maka ia hendaknya melaksanakan latihan ketiga yaitu konsentrasi atau Samadhi. Latihan konsentrasi ini menjadi sangat penting karena seseorang dikondisikan untuk tidak hanya terkendali perbuatan badan dan ucapannya saja, melainkan juga perbuatan melalaui pikiran. Mereka yang memiliki perilaku badan dan ucapan yang baik belum tentu mempunyai pikiran yang baik. Namun, seseorang yang telah memiliki pikiran yang baik, tentu perilaku badan dan ucapannya akan baik pula. Pelasanaan konsentrasi ini atau sering disebut sebagai Samatha Bhavana, menjadi dasar latihan kesadaran yang lebih tinggi yaitu selalu sadar dan perhatian terhadap setiap gerak-gerik pikiran yang muncul dan tenggelam yang disebut sebagi Vipassana Bhavana. Pentingnya upaya seseorang berlatih konsentrasi maupun kesadaran ini didukung dengan inti Ajaran Sang Buddha tentang Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah satu jalan yang terdiri dari delapan unsur yaitu Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Benar, Daya Upaya Benar, Perhatian Benar, Konsentrasi Benar, Delapan Unsur Jalan Mulia ini sering dikelompokkan menjadi tiga bagian besar yang disebut sebagai kelompok kebijaksanaan (Pañña). Kemoralan (sila) dan konsentrasi (Samadhi). Kebijaksanaan meliputi dua unsur pertama yaitu Pandangan Benar dan Pikiran Benar, Kemoralan terdiri dari tiga unsur berikutnya yaitu Ucapan Benar, Perbuatan Benar dan serta Mata Pencaharian Benar . Sedangkan konsentrasi terdiri dari Daya Upaya Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar. Pelaksanaan satu Jalan Mulia yang memiliki delapan unsur ini secara tekun dan penuh semangat akan dapat membebaskan seseorang dari ketamakan (lobha), kebencian(dosa) serta kegelapan batin (moha).
Dari pembagian kelompok Jalan Mulia Berunsur Delapan tersebut, jelas sudah bahwa konsentrasi menjadi salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan kedua bagian lainnya. Latihan konsentrasi pada awalnya dilakuan dengan memusatkan pikiran pada objek meditasi yang ltelah ditentukan. Pencapaian tertinggi meditasi konsentrasi (Samatha Bhavana) ini disebut dengan Jhana. Apabila tingkat konsentrasi dapat dicapai, maka pelaku meditasi dapat melanjutkan mengembangkan kesadaran pada segala gerak gerik pikirian maupun badan. Latihan meditasi tingkat lanjutan ini disebut sebagai meditasi mengembangkan kesadaran (Vipassana Bhavana) yang hasil tertingginya adalah kebijaksanaan (Panña). Untuk mencapai kebijaksanaan sebagai hasil latihan pengendalian pikiran secara maksimal, diperlukan beberapa persiapan dasar. Seperti diketahui bahwa pikiran adalah merupakan bagian dari batin, sedangkan manusia terdiri dari badan serta batin, maka persiapan badan yang baik akan mendukung perkembangan kualitas batin yang baik pula. Persiapan badan dimulai dengan memahami posisi badan yang ideal selama bermeditasi. Ada empat posisi meditasi yang dapat dipergunakan yaitu duduk, berdiri, berjalan serta berbaring.
Posisi duduk biasanya dilakukan dengan bersila, yaitu menyilangkan kedua kaki. Idealnya, kedua kaki terlipat sedemikian rupa sehingga kedua kaki telapak di atas paha. Jadi, telapak kaki kiri berada di atas paha kanan dan telapak kaki kanan di atas paha kiri. Namun, kalau sulit untuk melakukan posisi ini, boleh juga kaki kiri dilipat diletakkan dibawah kaki kanan. Telapak kaki kanan berada di atas paha kiri. Akan tetapi, jika posisi ini pun sulit dilakukan, pergunakan posisi apapun juga yang penting duduk bias terasa nyaman tanpa diganggu rasa kesemutan untuk waktu meditasi yang telah ditentukan, misalnya 15 menit atau 30 menit tanpa gerak.
Setelah mampu memposisikan kaki sehingga nyaman duduk, maka letakkan kedua telapak tangan berada di pangkuan . Telapak tangan kiri berada di bawah telapak tangan kanan. Biasanya, kedua ujung ibu jari dipertemukan. Duduklah dengan tegak namun santai. Kepala tegak, mata dipejamkan, dan bernafaslah secara normal. Pusatkan pikiran pada objek meditasi yang telah dipilih. Apabila pikiran mimikirkan hal lain, sadarilah dan segera pusatkan kembali pada objek meditasi tersebut. Demikian seterusnya selama waktu meditasi yang telah di tentukan.
Adapun meditasi dengan posisi berdiri dilakukan sesuai namanya yaitu memusatkan pikiran sambil berdiri tegak. Agar seseorang mampu berdiri secara nyaman, posisikan kedua tepak kaki satu sama lain berjarak selebar pundak. Tangan biasanya diletakkan di bawah pusar, telapak tangan kiri menempel di badan dan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri. Tentu saja tangan boleh diposisikan di tempat lain, misalnya di samping badan, bersilang tangan di depan dada bahkan bersilang tangan di pinggang. Posisikan tangan senyaman mungkin sehingga selama waktu berdiri yang telah ditentukan, konsentrasi tidak terganggu. Kedua mata dipejamkan dan seluruh perhatian dipusatkan pada objek meditasi.
Posisi meditasi yang lain adalah berjalan. Posisi tangan tetap di bawah perut, atau menugkin di samping badan, bersilang di depan dada atau pun di pinggang. Secara perlahan namun penuh konsentrasi, langkah kaki satu demi satu. Pada saat melangkah, seluruh perhatian dipusatkan pada objek meditasi yaitu, biasanya proses berjalan atau telapak kaki dilakukan dengan merasakan Perhatian pada proses berjalan dilakukan dengan merasakan di saat kaki diangkat, maju dan diletakkan. Perhatian pada telapak kaki diangkat, maju dan diletakkan. Perhatian pada telapak kaki diangkat dengan menyadari bagian belakang, tengah serta depan telapak kaki yang diangkat dan diletakkan. Meditasi berjalan ini dipergunakan sekitar 15 langkah sampai 25 langkah. Pelaku meditasi berjalan perlahan sampai di ujung jalan kemudian berbalik dan berjalan kembali sampai di ujung jalan yang lain, Demikian seterunya sampai selesai waktu meditasi yang ditentukan. Jika kekuatan konsentrasi semakin tinggi, langkah yang dilakukan juga akan semakin perlahan. Ada kemungkinan jarak sejauh 25 langkah tersebut ditempuh dalam waktu 30 menit atau lebih. Satu langkah mungkin menjadi dua menit atau lebih karena pikiran terpusat sangat kuat memperhatikan kaki yang sedang bergerak.
Sedangkan posisi meditasi yang keempat adalah berbaring. Posisi berbaring ini perlu dibedakan dengan tiduran. Tiduran dilakukan dengan tubuh telentang, tengkurap ataupun menyamping, kepala diatas bantal. Sedangkan posisi meditasi berbaring dilakukan dengan tubuh menyamping ke sebelah kanan, kepala ditopang oleh tangan kanan. Tangan kiri terletak di atas sisi kiri badan. Kaki kiri terletak di atas kaki kanan. Kedua mata dipejamkan. Seluruh perhatian dipusatkan pada obyek meditasi yang telah dipilih.
Meditasi sebaiknya dilakukan pada waktu dan tempat yang sama. Biasanya orang berlatih meditasi pada saat ia bangun tidur dan akan tidur. Lama meditasi, paling sedikit 15 menit sampai dengan 60 menit atau lebih. Lakukan meditasi sesuai dengan kemampuan. Sebelum meditasi, boleh saja melakukan sedikit upacara ritual menurut keyakinan masing-masing. Umat Buddhis biasanya melakukan pembacaan paritta atau mengulang khotbah Sang Buddha sekitar 15 sampai 20 menit. Upacara ritual ini diperlukan agar pikiran lebih terarah pada kegiatan spiritual dari pada kegiatan material.
Read more »

Penahbisan Sāmaṇera Sementara

Acara Pabbajjā Sāmaṇera sementara merupakan kegiatan untuk calon bhikkhu sementara. Acara yang belangsung dari 14 juli hingga 1 agustus 2010. Peserta 21 orang yang berasal dari beberapa kota di Indonesia. Yakni Bogor, Jakarta, Blitar, Sampit, Surabaya, Makassar, Kotabaru dan Lombok Utara.

“Acara ini bertujuan memberikan kesempatan kepada umat Buddha untuk berlatih menjalani kehidupan sebagai pertapa, menjalankan ajaran Sang Buddha lebih dari biasanya.” kata YM. Jotidhammo Mahathera.

Selama dua minggu seluruh peserta akan menjalani hidup seperti seorang bhikkhu. Mulai penampilan hingga kegiatan sehari-hari, misalnya, mereka harus mencukur habis rambut dan alis, mengenakan jubah bhikkhu, serta makan dua kali sehari. Setiap pagi para peserta akan melakukan kebaktian pagi, termasuk membaca paritta dan meditasi.

Penahbisan Sāmaṇera Sementara Oleh YM. Bhikkhu Sangha Theravada di Vihara Dhamma Jaya, Surabaya.
Tgl 18 Juli 2010